Adat Istiadat Daerah Lereng Gunung Inerie

Masih Kentalnya Tradisi Adat Istiadat di Daerah Lereng Gunung Inerie

Ngada jadi salah satunya kabupaten di Nusa Tenggara Timur dengan berpotensi rekreasi yang pantas untuk ditingkatkan karena tradisi Adat Istiadat Gunung Inerie masihlah kental. Masalahnya banyak tujuan rekreasi alam dan budaya yang pantas untuk didatangi.

Jika kamu ke Pulau Flores, dapat singgah sesaat ke kabupaten yang beribukota di Bajawa ini. Saat berekreasi ke Ngada, kamu akan disuguhi keelokan alam dan budaya sekalian.

Adat Istiadat Daerah Lereng Gunung Inerie

Beberapa kampung tradisi di situ berada di wilayah yang mempunyai panorama cantik. Bahkan juga, kamu dapat menyaksikan tapak jejak peradaban Jaman Megalitikum, lho.

Baca Juga: Kunjungan Favorit Wisatawan di IbuKota Australia

Masih bimbang untuk tentukan kampung Adat Istiadat Gunung Inerie yang mana akan kamu datangi saat di Kabupaten Ngada? Di bawah ini beberapa kampung tradisi yang bisa saja rujukan untukmu.

  1. Kampung Belaraghi, Keligejo – Kecamatan Aimere

Kampung tradisi pertama yang dapat kamu datangi, yaitu Kampung Belaraghi. Pada kampung ini ada di Keligejo, Kecamatan Aimere yang memiliki jarak seputar 45 km dari Bajawa. Kamu dapat menempuhnya dengan lakukan trackking lajur Wolowio atau memakai kendaraan individu melalui jalan aspal.

Kamu tidak perlu cemas, warga etnis Ngada di kampung ini telah terlatih dengan pelancong hingga mereka benar-benar ramah dan kamu akan dijamu dengan sajian hasil panen. Ya, sejumlah besar warga di situ profesinya selaku petani.

Saat menginap di situ, kamu dapat nikmati situasi yang tenang dan jauh dari keramaian. Bila mujur, kamu dapat menyaksikan ritus pemberian sesajen untuk beberapa nenek moyang yang dilaksanakan oleh warga di tempat.

  1. Kampung Gurusina, Watumanu – Kecamatan Jerebuu

Hingga menarik rasa ingin tahu di hati Pelancong untuk bertandang dan saksikan langsung. Pelancong banyak yang datang berawal dari bermacam wilayah di Indonesia bahkan juga sampai Pelancong luar negeri.

Kekhasan dari tradisi dan budaya yang bertahan sampai sekarang ini membuat Kampung Gurusina jadi tujuan rekreasi budaya yang pantas di datangi waktu berekreasi ke Labuan Bajo. Dibalik keelokan Kampung Gurusina selaku tujuan rekreasi budaya ada salah satunya adat unik yang bertahan, apa tradisinya itu?

Kampung Tradisi Gurusina ataupun lebih kerap disebutkan Gurusina adalah kampung tradisi paling tua. Kepopulerannya kemungkinan tidak seperti Kampung Bena, walau sebenarnya Kampung ini mempunyai kekhasan dan keelokan yang tidak berbeda jauh dengan Kampung Bena. Disamping itu, posisinya tidak begitu jauh dari Kampung Bena bahkan juga ada pada wilayah yang sama ada di kaki Gunung Inerie. Hingga Anda dapat berkunjung Kampung ini sesudah atau saat sebelum berkunjung Kampung Bena.

Tapi sayangya, tidak cuma dari kepopuleran yang kurang dapat menyamakan Kampung Bena, Kampung yang dikatakan sebagai Kampung Megalitikum ini alami kebakaran pada 14 Agustus 2018. Meskipun pembuatan rumah telah dilaksanakan, tapi bermacam perlengkapan sebagai keunikan dari kampung ini belum seutuhnya dapat ditukar. Walaupun begitu, keelokan alam kampung ini bisa dirasa.

Kampung Gurusina secara administratif terhitung dalam daerah Kampung Watumanu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak dari Kampung Bena seputar 4 km tapi sebab jalan khusus ke arah dua kampung ini memutar hingga untuk tempuh perjalanan dibutuhkan waktu seputar 1 jam 30 menit.

Kampung ini adalah kampung megalitikum yakni sebuah peradaban yang lalu. Salah satunya keunikan peradaban ini ialah sarkofagus, yakni pusara yang tidak di dalam tanah tetapi seperti area untuk menyimpan. Bukan lantaran harga keranda mayat yang mahal, tetapi keyakinan warga megalitikum yang jadikan orang telah mati cukup tersimpang saja tidak dipendamkan dalam tanah.

  1. Kampung Bena, Tiwuriwu – Kecamatan Aimere

Dusun ini posisinya cuman 18 km dari kota Bajawa di Pulau Flores. Kota ini banyak didatangi pelancong apa lagi cuacanya cukup dingin, sejuk, dan berbukit-bukit, serupa seperti pada Kaliurang, Yogyakarta.

Pembanding di antara satu suku dengan suku yang lain ialah ada jenjang sekitar 9 biji. Tiap satu suku ada pada sebuah tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri ada di tengah.

Biasanya masyarakat suku-suku di Bena bermata pencarian selaku peladang dengan kebun-kebun menghijau tumbuh di beberapa sisi ngarai yang melingkari kampung. Untuk berbicara sehari- hari mereka memakai bahasa Nga’dha. Sebagian besar masyarakat Kampung Bena beragama Katolik namun menjaringkan keyakinan nenek moyang terhitung tradisi dan tradisinya.

Kampung tradisi Bena ada berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur persisnya di Dusun Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, seputar 19 km di selatan Bajawa. Kampung ini ada di puncak bukit dengan panorama Gunung Inerie. Sebab ada di lereng gunung, kampung ini cukup dingin dan kerap dihias dengan kabut.

Dari puncaknya Anda akan menyaksikan panorama cantik ke semua arah, terhitung Bajawa di samping barat laut dan birunya Laut Sawu dibagian selatan.

Kehadirannya di bawah gunung adalah keunikan warga lama yang yakin jika beberapa dewa tinggal di gunung. Menurut warga kampung ini, mereka yakini kehadiran Yeta, dewa di gunung ini yang membuat perlindungan kampung mereka. Keyakinan itu masih digenggam oleh warga di tempat sampai saat ini.

Jarak permukiman ini lebih kurang 19 km dari pusat perkotaan Bajawa, ibu-kota kabupaten Ngada. Untuk meraihnya, dapat dilakukan dengan memakai kendaraan darat. Walaupun lajurnya telah relatif baik, tetapi Anda masih dituntut mempunyai ketrampilan berkendara yang oke buat mengalahkan jalan berliku dan turun naik.

Bila Anda pergi dari Kupang, karena itu dapat meneruskan perjalanan dengan memakai agen travel ke kota Bajawa. Sampai di kota Bajawa, Anda dapat meneruskan perjalanan ke posisi memakai ojek dengan waktu pintas lebih kurang 1/2 jam.

  1. Kampung Tololela, Manubara – Kecamatan Jerebuu

Kembali ke arah Kecamatan Jerebuu, kesempatan ini ada Kampung Tololela yang ada di Dusun Manubara. Berada seputar 30 km dari Bajawa dan kamu harus ke arah Kampung Bena lebih dulu. Selanjutnya berjalan kaki seputar 1 jam ke arah Kampung Tololela.

Seperti kampung tradisi di Kabupaten Ngada biasanya, warga di tempat berkebun. Sedang beberapa wanita menenun, kamu dapat ikut belajar atau membeli. Penduduknya juga ramah dan masih junjung tinggi tradisi istiadat leluhur.

Kecuali pemandangan yang cantik, kamu bisa juga menyaksikan rumah tradisionil dibuat dari kayu dan ilalang. Ada juga sundul kerbau di tiap rumah yang mengisyaratkan tersisa kurban untuk upacara tradisi.

  1. Kampung Wogo Baru, Rotegesa – Kecamatan Golewa

Warga tradisi di Kampung Wogo adalah salah satunya yang lakukan migrasi. Masihlah ada artefak warisan mereka, seperti menhir dan meja altar di Kampung Wogo Lama. Sedang warga Kampung Wogo sekarang tinggal di Kampung Wogo Baru yang terletah seputar 1 km.

Seperti kampung tradisi di Ngada, Kampung Wogo Baru terbagi dalam beberapa rumah tradisi memiliki bahan kayu, jerami atau ijuk. Ada ngadhu, bangunan yang menyimbolkan nenek moyang lelaki. Sedang nenek moyang wanita disimbolkan dengan bhaga sebagai keunikan kampung tradisi di Ngada.

Walau warga di tempat telah mengenali agama, tetapi adat nenek moyang masih dilaksanakan sampai sekarang. Seperti upacara Reba yang diselenggarakan saat masyarakat di tempat pulang dari perantauan.

Itu barusan ke-5 kampung tradisi yang berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Tidak kalah dari  Wae Rebo, kampung tradisi itu bertempat  di lereng Gunung Inerie. Selain masih junjung tinggi tradisi istiadat dari nenek moyang, mereka juga ramah pada pelancong.